Selasa, 16 Juni 2015 1 komentar

Daftar Beasiswa Dalam dan Luar Negeri Beserta Linknya




Halo! Sebagai seorang yang punya mimpi bisa dapet beasiswa di dalam maupun luar negeri, aku akhirnya masuk ke beberapa forum yang kerjanya berbagi link beasiswa, exchange, atau komunitas kepemudaan lain di Indonesia. 

Dan sini aku mau share sekitar 30 beasiswa dalam dan luar negeri yang bisa kamu prospek untuk masa depan kamu. Kalau kamu masih lama lulus atau masih semester 4 kaya aku ya simpen aja dulu linknya sekalian kepoin karena kita masih punya banyak waktu untuk well prepare.

Aku berharap kamu yang saat ini menatap monitor, suatu saat bisa menginjak negara yang link beasiswanya kutulis disini, sekolah gratis dan bilang "Hei Gi, thankies for share the links, and I'm in USA or Japan or Aussie right now." 

Guys, everything is possible okay! Just believe it and let God guides you. Dan ingat kata A. Fuadi ya.....
"Beasiswa bukan hanya untuk orang cerdas, tapi juga untuk orang yang mau mencari dan mencari, berusaha dan berusaha"
BERKABAR YA KALO JADI AWARDEE! AAMIIN...... 


So tarik nafas kamu dalam-dalam dan siapin batin kamu untuk lihat puluhan pintu yang akan membawa kamu ke negeri orang tanpa pusing mikirin duit...... Three Two One..... So here we are!!!


1. Australia Award Scholarship (http://australiaawardsindo.or.id)




3. DIKTI Scholarship




4. Turkey Government Scholarship (http://www.turkiyeburslari.gov.tr/index.php/en)

5. General Cultural Scholarship India (http://www.iccrindia.net/gereralscheme.html


6. USA Government Scholarship




7. Netherland Government Scholarship (http://www.nesoindonesia.or.id/beasiswa)



9. Belgium Government Scholarship






14. Brunei Darussalam Government Scholarship (http://www.mofat.gov.bn/index.php/announcement)


15. Monbugakusho Scholarship Japan (http://www.id.emb-japan.go.jp/sch.html)


17. PPM School of Management Indonesia (http://ppm-manajemen.ac.id/beasiswa-penuh-s2-mm-reguler/)




19. Sweden Government Scholarship (http://www.studyinsweden.se/Scholarships/)



21. Taiwan Government Scholarship (http://www.studyintaiwan.org/taiwan_scholarships.html)


22. United Kingdom Government Scholarship (Chevening) (http://www.chevening.org/indonesia/)




24. Ancora Foundation Scholarship (http://ancorafoundation.com)


25. Asian Public Intellectuals Fellowship Japan (http://www.api-fellowships.org/body/)

26. AUN/SEED-Net Scholarship (http://www.seed-net.org/index.php)


28. Ritsumeikan Asia Pacific University Japan (http://www.apu.ac.jp/home/life/index.php?content_id=30)



30. DIKTIS Overseas Scholarship (http://www.pendis.kemenag.go.id/beasiswaln/)


31. Honjo International Scholarship Foundation Japan (http://hisf.or.jp/english/sch-f/)


32. Islamic Development Bank Merit Scholarship Programme for High Technology (http://www.isdb.org/irj/portal/anonymous?NavigationTarget=navurl://c28c70fde436815fcff1257ef5982a08)


33. International HIV & Drug Use Fellowship USA (http://www.iasociety.org/fellowship.aspx)

34. Nitori International Scholarship Foundation Japan (http://www.nitori-shougakuzaidan.com/en/)


35. School of Government and Public Policy Indonesia (http://sgpp.ac.id/pages/financial-conditions)


36. Inpex Scholarship Foundation Japan





Selasa, 28 April 2015 0 komentar

Sekelebat kilat dari Jenesys 2.0 Batch 11 Mass Media

Juni sedang memberikan ucapan terima kasih saat farewell party dengan host-family

Sebelum kamu mau submit essay atau form seleksi youth program, cantiknya kamu harus riset dulu soal program yang akan kamu apply itu termasuk Jenesys 2.0 ini. Walaupun kabarnya Jenesys 2.0 ini telah berakhir tetapi gosipnya program sejenis ini akan tetap dilakukan oleh Pemerintah Jepang dan JICE (Japan International Cooperation Center) dengan nama yang lain…. Masih gossip sih haha. Tapi apapun yang terjadi, siap-siap buat ngisi otak kamu dengan informasi mengenai Jepang dan Jenesys 2.0

First, ada beberapa pernyataan yang mau gue bold disini
  1.  “Jenesys 2.0 itu fully funded! Makan, visa, transportasi, airfare, asuransi ditanggung pemerintah Jepang”
  2. “Kamu tinggal bawa badan dan list oleh-oleh dari orang-orang sekeliling kamu”
  3.    “Jaga iman, orang Indonesia suka belanja, buat muslim jaga makanan dan iman juga”

Nah, pertanyaannya kenapa sih Pemerintah Jepang mau repot-repot ngebiayain pemuda-pemudi di Asia Pasific untuk ikut Jenesys 2.0 ini padahal satu orangnya aja bisa ngabisin hampir Rp. 30 juta buat keliling Jepang selama 9 malem 10 hari ini.

Jawabannya apalagi selain meningkatkan mutual understanding dan meningkatkan perhatian dunia sama Jepang? Jepang ingin meningkatkan kunjungan wisatawannya ke Jepang apalagi mereka lagi nargetin negara-negara ASEAN untuk berkunjung ke Jepang. Makanya kami disuruh promosiin Jepang di Indonesia.

Jepang secara ekonomi dan pariwisata bahkan industri kreatifnya sedang bersaing ketat dengan Korea Selatan, itulah kenapa Jepang rajin banget bikin program beginian. Mereka ingin mengenalkan dunia pada brand, pariwisata, budaya, dan gaya hidup Jepang.

Imagine when you come to Japan, you will feel diversity directly! Dan yang terpenting adalah kamu bisa mempromosikan balik Indonesia beserta pemuda-pemuda terbaik Indonesia ke orang-orang Jepang yang kamu temui. Di bacth 11 ini ada sekitar 100 delegasi Indonesia yang dibagi dalam 4 kelompok dan kelompok gue kebagian ke prefektur (provinsi) Ehime

Apa saja yang akan kamu lakukan di program ini? Ini listnya:
  1. Company visit, untuk memperkenalkan teknologi dan Japanese work ethic. Gue kebagian ke kantor shinbun (koran), media massa lain, dan museum Miraikan karena gue masuk batch Mass Media
  2. Kunjungan ke kantor pemerintahan dan wisata lokal. Waktu itu gue ke kantor Gubernur Prefektur Ehime, Matsuyama Castle dan Dogo Onsen.
  3. Kunjungan ke universitas. Ini bagian yang paling gue suka, karena kita bakal ketemu sama Japanese student (kamu bisa gunain ini sebagai ajang cari jodoh temen) dan ketemu PPI Ehime jadi bisa nanya-nanya beasiswa.
  4.  Homestay. Yups! Disini kamu akan jadi Japanese amatir tapi berasa beneran.
  5. Workshop, kegiatan presentasi pengalaman dan Post Project Activity kelompokmu. Project kelompok Ehime gue adalah hashtag #jepangnyatuhdisini

Last nih, gue bahkan Jenesyst (alumni program Jenesys) pun ga tau kapan seleksi Jenesys 2.0 kapan dan siapa committee partner yang ditunjuk Pemerintah Jepang dan JICE (Japan International Cooperation Center) karena emang program ini gak sepopuler program pertukaran pemuda lain. Tapi kamu bisa cari tahu lebih lanjut di web JICE ini dan persiapkan writing and also speaking skill kamu.

Jenesys 2.0 ini juga punya berbagai tema kaya gue dapet batch Mass Media dan gue lolos karena gue anak Fikom dan suka nulis dan fotografi. Ada juga batch lain kaya Science and Technology , Japanese Language, J-Pop Culture, and many more.

Host-family Gianti sama Dita. Takeyasu Family


Ingin tahu cerita gue pas ke Jepang lainnya? Baca aja postingan blog gue karena gue bakal posting pengalaman gue ke Jepang 2 minggu sekali disini.

Kamis, 02 April 2015 0 komentar

Spread your wings! There are my wings

1.     Speaker of Telkom University Mengajar Seminar (2015)
2.     Delegate of Indonesia for JENESYS 2.0 Batch 11th Mass Media in Japan (2015)
3.     Moderator of Educational Festival Purwakarta Seminar (2015)
4.     Speaker of Rumpun Program Studi Educational Festival Purwakarta (2015)
5.     Inspirational Figure of Ruang Tengah Magazine Swara Mahasiswa UNISBA (2015)
6.     Delegate of Bandung Islamic University for Global Peace Volunteer Camp 1.23 in Bali (2014)
7.     The Most Outstanding Student of Mankom Award (2014)
8.     Speaker of Salam Sapa Mankom UNISBA (2014)
9.     Main Teller of Lentera Indonesia Eps. "Anak Indonesia di NegaraTetangga" on NET Tv (2014) 
10. Speaker of talkshow segment in Indonesia Morning Show on NET Tv (2014)
11. Delegate of Bandung Islamic University for Volunteerism Teaching Indonesian Children Cycle 3 in Malaysia (2014)

Kamis, 26 Maret 2015 0 komentar

Jenesys 2.0: Merealisasikan Mimpi itu Tidak Gratis dan Tak Turun dari Langit


Jalur pedestrians di Jepang. Sumber: google.com


Pagi yang hangat mengelilingiku di kota Matsuyama ini, 13 derajat celcius adalah suhu yang cukup membuat tubuhku merasa nyaman di musim dingin ini. Ya Matsuyama mungkin tak bersalju, tapi angin yang menyentuh kulit ini bisa menggelitik tulang, apalagi suhu 6 derajat saat aku pertama kali menghirup udara disini. Ranting pohon masih rapuh dan kaku, suara jalanan yang tenang hanya terusik ketukan bel sepeda yang melintas atau hanya sekedar racauan gagak hitam yang lewat, manusia berkulit putih dan sipit berlalu lalang dengan cepat. Ah, ya…. Ehime, Jepang, prefektur yang sedang kutinggali ini memang paling bisa membuat homo sapiens asal Indonesia ini  merasa nyaman.


“Ohayou (Bahasa: Selamat pagi)!”. Suara lembut itu mengalir di telingaku, ah aku hafal suara ini.

‘’Ohayou, Kana!”. Aku menyapanya balik dengan senyum 3 jariku. 

Lalu dia melangkah sejajar denganku, Matsumura Kana adalah teman baruku di Matsuyama ini, untuk ukuran Japanese dia "cukup cerewet" dan terbuka dikala Japanese lain lebih introvert. Kami sering berdiskusi atau bahkan sekedar menertawakan diri disini. Kami berjalan terus sambil tertawa bersama, si sipit cantik ini ternyata yang akan menemaniku hari ini.Namun tiba-tiba jantungku seperti genderang perang berdegup begitu cepatnya DAG DIG DUG DAG DIG DUG, nafasku semakin berat dan sesak HUF HUF HUF. Aku merasa pusing dan semua semakin gelap, semakin gelap lagi, semakin hitam. . . lalu jalanan itu mulai meredup dan. . .

Eeeerrrr aku kesulitan mengangkat kepalaku yang berat, membuka mata dan. . . . BAMM!!! I’m in Indonesia now! In my class exactly!

I realized that it’s just a dream, ah damn! Mataku belum fokus, otakku pun masih berputar. Ah sial! Aku masih di Indonesia, bukan di Matsuyama, bukan di musim dingin tapi di musim hujan, ah sial!
Saat aku berusaha keras mengumpulkan nyawa, entah mengapa aku langsung memfokuskan mataku pada deretan huruf yang menusuk mataku. “God has seen you struggling”. Kata yang sederhana untuk membuat otakku menciut, aku malu…. 

Pasti Tuhan saat ini sedang menertawakanku, seorang pemimpi besar yang memelas pada Tuhan agar kakinya diinjakan kembali di Jepang tapi kerjaannya tidur di kelas. Bodoh!

Oh ya, namaku Gianti! Baru saja ditoyor Tuhan agar ingat untuk berjuang lebih lagi begitu Dia melihatku tertidur di kelas sampai mimpi. Sepertinya Tuhan ingin mengingatkanku bahwa mimpi besarku harus dibayar dengan sesuatu yang besar juga.

Astral Remaja muda belia asal Indonesia macam aku saja ingin kuliah di Jepang, muluk-muluk banget! Biarlah, Tuhanku Maha Kuasa ini. Dia saja bisa membawaku ke Jepang akhir Februari 2015 lalu, lewat program Jenesys 2.0, sebuah program pertukaran pelajar yang intinya untuk mempromosikan Jepang and as we all know that it’s fully funded!
Kota Matsuyama dilihat dari ketinggian (Sumber: Dokumentasi Pribadi)


Sebenarnya sebelum mengikutin Jenesys ini aku tak terlalu addicted dengan Jepang, biasa aja. Bahkan aku lebih ingin mengunjungi Aussie, tapi akhir November 2014 lalu kata-kata asalku jadi do’a yang terkirim ke telinga Tuhan. Saat itu aku cuma asal meracau pada sahabatku “Sa, pengen ke Jepang ih”. Itu do’aku yang ngasal, yang ngasal aja diijabah, ngasal sih tapi tetep ada usahanya.

Jadi gini. . . . aku baru tahu kalau ada seniorku yang mengikuti Jenesys 2.0 ini, namanya Blablabla Putri Utami. Saat itu aku tak tahu nama depannya, aku hanya melihat namanya sekilas di komputer staff administrasi fakultasku. Lalu aku mencari namanya di database universitasku dan aku tahu dia angkatan 2011 jurusan Public Relations dengan nama lengkap Anita Putri Utami.

Nah masalahnya di PR itu ada ratusan orang, lah gimana nyari nya? Bodo amat, aku langsung meneror semua mahasiswa PR 2011 yang aku kenal, aku chat one by one then finally I got the contact! WUZZZZ langsung aku chat ka Anita ini, langsung aku ajak meet up dan langsung aku wawancarai dia seputar Jenesys, bahkan dia memberiku kontak staff Kekominfo sebagai partner JICE untuk menyelenggarakan  Jenesys 2.0.

Karena hasrat Knowing Everything Particular Object-ku yang super kuat dan karena susah banget nyari info Jenesys 2.0 di internet, akhirnya aku meneror pihak Kemkominfo yang ternyata helpful ini sekitar tanggal 21 Desember, ternyata saat itu seleksi Jenesys telah dibuka dengan deadline tanggal 22 Desember sedangkan aku baru menerima berkas formulir dan persyaratannya di 22 Desember sore. Kebayang kan gimana rusuhnya aku mempersiapkan seleksi ini? 

Semalaman aku mengerjakan mini essaynya, riset Jepang itu seperti apa, apa yang dibutuhkan Jepang dan apa yang bisa aku bantu, mencari berkas pribadi, mencari sertifikat TOEFL yang ternyata hilang, dan minta revisi ke Devita. Dan BTW iroiro arigatou gozaimasita for Devita

Tapi Alhamdulillah aku bisa mengirimkan berkasnya melalui e-mail, walaupun kepala pusing karena deadline yang mepet. Tips untuk kamu yang mau ikut program beginian: sebisa mungkin tunjukan pada selektor bahwa kamu bisa berkontribusi penuh dengan skill kamu, buat selektor bisa mengenal kamu walaupun hanya dengan deretan kata.

Hampir sebulan lebih tak ada kabar soal hasil seleksi Jenesys ini, ah sudahlah mungkin bukan rezekiku. Lalu di sore hari yang melelahkan di 2 Februari, Sasa tiba-tiba mengirim Whatsapp:

“Gi, udah cek e-mail?”
“Belom, apaan?”
“Jenesys”

Oh God! Aku langsung terperanjat dan buru-buru membuka e-mailku lalu melihat surel masuk dari Kemkominfo yang menyatakan aku lulus Jenesys 2.0. AAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!! I can’t believe it, saking senengnya aku ga berekspresi apapun, flat.


Logotype Jenesys 2.0 (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Aku kira e-mail ini hanya candaan, eh ternyata ini beneran…. Beneran aku akan pergi ke Jepang gratis! Negara yang banyak diimpikan orang. Alhamdulillah Ya Allah, aku amat percaya Engkau Maha Mendengar.

Mau tahu kisah kakiku yang bisa mencium bau tanah Jepang? Klik disini aja
Atau kamu bisa search segala informasi tentang jepang di Instagram, Path, Facebook, dan Twitter dengan hashtag #Jepangnyatuhdisini
Minggu, 06 Juli 2014 0 komentar

2 Minggu untuk Seumur Hidup (Sebuah Misi VTIC)


“Jika kamu adalah relawan yang tidak dibayar. Itu bukan karena kamu tidak bernilai, tapi karena kamu tak ternilai”- Anies Baswedan

Relawan, good impact, action, great people, adalah menu-menu yang bakal aku sajikan dalam tulisan ini. Dan semua menu itu terangkum dalam sebuah program yang lagi aku dan teman-temanku jalankan sekarang, yaitu VTIC (Volunteerism Teaching Indonesian Children). Adalah saling mengajari, saling menginspirasi, saling memotivasi, dan saling menemani yang menjadi bumbu agar program ini menjadi program yang membekas bagi kami para cikgu (guru, dalam bahasa Melayu), para murid, dan orang-orang yang mengetahui semua ini.
Volunteerism Teaching Indonesian Children's Logo

Di tahun 2014 ini VTIC dilaksanakan dalam kurun waktu kira-kira 2 minggu untuk yang ketiga kalinya yaitu dari tanggal 13-23 Agustus 2014 di Miri, Sarawak, Malaysia.
Loh kok di Malaysia? Karena yang kami ajari adalah anak-anak Tenaga Kerja Indonesia yang tidak mendapatkan pendidikan formal disana dan itu banyak sekali jumlahnya, apalagi daerahnya yang terpencil, kesejahteraan yang kurang, dan akses yang cukup sulit yang menjadikan keadaan anak-anak disana seperti itu. Bahkan terdapat beberapa anak yang tak sempat mandi ketika belajar bersama cikgu, dan mereka lah anak yang orang tuanya belum sempat memandikan mereka dimana notabene orang tua mereka harus berangkat pagi-pagi sekali untuk menjadi pekerja kasar di perkebunan kelapa sawit disana.

Sekitar 80% anak disana tidak mendapat pendidikan formal. Hal ini membuat anak-anak disana kekuarangan amunisi untuk melanjutkan hidup mereka, seperti yang orang bilang bahwa pendidikan akan menjadi jalan buntu bagi kemelaratan, akan jadi energi manusia untuk mempertahankan harkat diri, dan disana…… pendidikan berkualitas menjadi barang mahal bagi mereka. Dan yang harus di ingat adalah: MEREKA JUGA ANAK INDONESIA

Hal-hal tersebut yang menjadi bahan bakar kami untuk bergerak menginspirasi mereka agar terus belajar, dan kami sadar bahwa belum banyak orang yang aware dengan kekurangan mereka apalagi mereka ada di luar Indonesia. Dan aku percaya sudah banyak great people yang bergerak untuk anak-anak yang bernasib sama di Indonesia, tapi disini tak banyak. Jadi mereka membutuhkan bantuan dari KAMU dan KAMI.
Awalnya saya hanya iseng ikut seleksi program yang dikhususkan bagi mahasiswa ini dengan maksud “Cuma mau ke luar negeri tapi ga buat main”, namun begitu saya bertemu dengan orang-orang yang diterima dalam program ini…. Aku ngerasa “Da aku mah apa atuh?”
Ya…. aku cuma sebangsa asap yang keluar dari Bus Damri yang butut. Secara GILE MEEEEN di VTIC ini ada yang sudah jadi global citizen yang udah menclak- menclok ke berbagai negara, ada yang udah jadi pembicara di seminar, ada yang jadi peserta kompetisi di tv nasional, dll. Lah aku? Mahasiswa FIKOM UNISBA 2013 (btw aku paling muda disini tjieee) yang kerjanya kuliah, pulang, ngehedon, rapat sekali-kali, and enough. Dan banyak orang-orang cerdas disini yang ternyata bener-bener great people, dan kalo ada quote yang bilang:

 “Everyone you will ever meet knows everything you don’t”
             itu bener banget!

Then one day Kang Alpiadi Prawiraningrat told me that volunteering is the best thing that higher student can do. “Kalo kamu mau lolos exchange atau scholarship yang jadilah orang yang addicted dengan volunteering”. Dari situ aku nyadar kalau ini salah satu yang dilakukan orang-orang cerdas, volunteering. It gives good impact to the others, secara langsung! Dan ngebuktiin kalau mahasiswa bukan cuma orator yang ngemeng doang. Dan manusia paling baik akan memanfaatkan dirinya untuk kebaikan orang lain seperti yang Rasulullah S.A.W bilang.

So…. What I wanna deliver to you is: take action to give good impact to your community. RIGHT NOW!  It’s your turn!



 
;