Kamis, 26 Maret 2015 0 komentar

Jenesys 2.0: Merealisasikan Mimpi itu Tidak Gratis dan Tak Turun dari Langit


Jalur pedestrians di Jepang. Sumber: google.com


Pagi yang hangat mengelilingiku di kota Matsuyama ini, 13 derajat celcius adalah suhu yang cukup membuat tubuhku merasa nyaman di musim dingin ini. Ya Matsuyama mungkin tak bersalju, tapi angin yang menyentuh kulit ini bisa menggelitik tulang, apalagi suhu 6 derajat saat aku pertama kali menghirup udara disini. Ranting pohon masih rapuh dan kaku, suara jalanan yang tenang hanya terusik ketukan bel sepeda yang melintas atau hanya sekedar racauan gagak hitam yang lewat, manusia berkulit putih dan sipit berlalu lalang dengan cepat. Ah, ya…. Ehime, Jepang, prefektur yang sedang kutinggali ini memang paling bisa membuat homo sapiens asal Indonesia ini  merasa nyaman.


“Ohayou (Bahasa: Selamat pagi)!”. Suara lembut itu mengalir di telingaku, ah aku hafal suara ini.

‘’Ohayou, Kana!”. Aku menyapanya balik dengan senyum 3 jariku. 

Lalu dia melangkah sejajar denganku, Matsumura Kana adalah teman baruku di Matsuyama ini, untuk ukuran Japanese dia "cukup cerewet" dan terbuka dikala Japanese lain lebih introvert. Kami sering berdiskusi atau bahkan sekedar menertawakan diri disini. Kami berjalan terus sambil tertawa bersama, si sipit cantik ini ternyata yang akan menemaniku hari ini.Namun tiba-tiba jantungku seperti genderang perang berdegup begitu cepatnya DAG DIG DUG DAG DIG DUG, nafasku semakin berat dan sesak HUF HUF HUF. Aku merasa pusing dan semua semakin gelap, semakin gelap lagi, semakin hitam. . . lalu jalanan itu mulai meredup dan. . .

Eeeerrrr aku kesulitan mengangkat kepalaku yang berat, membuka mata dan. . . . BAMM!!! I’m in Indonesia now! In my class exactly!

I realized that it’s just a dream, ah damn! Mataku belum fokus, otakku pun masih berputar. Ah sial! Aku masih di Indonesia, bukan di Matsuyama, bukan di musim dingin tapi di musim hujan, ah sial!
Saat aku berusaha keras mengumpulkan nyawa, entah mengapa aku langsung memfokuskan mataku pada deretan huruf yang menusuk mataku. “God has seen you struggling”. Kata yang sederhana untuk membuat otakku menciut, aku malu…. 

Pasti Tuhan saat ini sedang menertawakanku, seorang pemimpi besar yang memelas pada Tuhan agar kakinya diinjakan kembali di Jepang tapi kerjaannya tidur di kelas. Bodoh!

Oh ya, namaku Gianti! Baru saja ditoyor Tuhan agar ingat untuk berjuang lebih lagi begitu Dia melihatku tertidur di kelas sampai mimpi. Sepertinya Tuhan ingin mengingatkanku bahwa mimpi besarku harus dibayar dengan sesuatu yang besar juga.

Astral Remaja muda belia asal Indonesia macam aku saja ingin kuliah di Jepang, muluk-muluk banget! Biarlah, Tuhanku Maha Kuasa ini. Dia saja bisa membawaku ke Jepang akhir Februari 2015 lalu, lewat program Jenesys 2.0, sebuah program pertukaran pelajar yang intinya untuk mempromosikan Jepang and as we all know that it’s fully funded!
Kota Matsuyama dilihat dari ketinggian (Sumber: Dokumentasi Pribadi)


Sebenarnya sebelum mengikutin Jenesys ini aku tak terlalu addicted dengan Jepang, biasa aja. Bahkan aku lebih ingin mengunjungi Aussie, tapi akhir November 2014 lalu kata-kata asalku jadi do’a yang terkirim ke telinga Tuhan. Saat itu aku cuma asal meracau pada sahabatku “Sa, pengen ke Jepang ih”. Itu do’aku yang ngasal, yang ngasal aja diijabah, ngasal sih tapi tetep ada usahanya.

Jadi gini. . . . aku baru tahu kalau ada seniorku yang mengikuti Jenesys 2.0 ini, namanya Blablabla Putri Utami. Saat itu aku tak tahu nama depannya, aku hanya melihat namanya sekilas di komputer staff administrasi fakultasku. Lalu aku mencari namanya di database universitasku dan aku tahu dia angkatan 2011 jurusan Public Relations dengan nama lengkap Anita Putri Utami.

Nah masalahnya di PR itu ada ratusan orang, lah gimana nyari nya? Bodo amat, aku langsung meneror semua mahasiswa PR 2011 yang aku kenal, aku chat one by one then finally I got the contact! WUZZZZ langsung aku chat ka Anita ini, langsung aku ajak meet up dan langsung aku wawancarai dia seputar Jenesys, bahkan dia memberiku kontak staff Kekominfo sebagai partner JICE untuk menyelenggarakan  Jenesys 2.0.

Karena hasrat Knowing Everything Particular Object-ku yang super kuat dan karena susah banget nyari info Jenesys 2.0 di internet, akhirnya aku meneror pihak Kemkominfo yang ternyata helpful ini sekitar tanggal 21 Desember, ternyata saat itu seleksi Jenesys telah dibuka dengan deadline tanggal 22 Desember sedangkan aku baru menerima berkas formulir dan persyaratannya di 22 Desember sore. Kebayang kan gimana rusuhnya aku mempersiapkan seleksi ini? 

Semalaman aku mengerjakan mini essaynya, riset Jepang itu seperti apa, apa yang dibutuhkan Jepang dan apa yang bisa aku bantu, mencari berkas pribadi, mencari sertifikat TOEFL yang ternyata hilang, dan minta revisi ke Devita. Dan BTW iroiro arigatou gozaimasita for Devita

Tapi Alhamdulillah aku bisa mengirimkan berkasnya melalui e-mail, walaupun kepala pusing karena deadline yang mepet. Tips untuk kamu yang mau ikut program beginian: sebisa mungkin tunjukan pada selektor bahwa kamu bisa berkontribusi penuh dengan skill kamu, buat selektor bisa mengenal kamu walaupun hanya dengan deretan kata.

Hampir sebulan lebih tak ada kabar soal hasil seleksi Jenesys ini, ah sudahlah mungkin bukan rezekiku. Lalu di sore hari yang melelahkan di 2 Februari, Sasa tiba-tiba mengirim Whatsapp:

“Gi, udah cek e-mail?”
“Belom, apaan?”
“Jenesys”

Oh God! Aku langsung terperanjat dan buru-buru membuka e-mailku lalu melihat surel masuk dari Kemkominfo yang menyatakan aku lulus Jenesys 2.0. AAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!! I can’t believe it, saking senengnya aku ga berekspresi apapun, flat.


Logotype Jenesys 2.0 (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Aku kira e-mail ini hanya candaan, eh ternyata ini beneran…. Beneran aku akan pergi ke Jepang gratis! Negara yang banyak diimpikan orang. Alhamdulillah Ya Allah, aku amat percaya Engkau Maha Mendengar.

Mau tahu kisah kakiku yang bisa mencium bau tanah Jepang? Klik disini aja
Atau kamu bisa search segala informasi tentang jepang di Instagram, Path, Facebook, dan Twitter dengan hashtag #Jepangnyatuhdisini
Minggu, 06 Juli 2014 0 komentar

2 Minggu untuk Seumur Hidup (Sebuah Misi VTIC)


“Jika kamu adalah relawan yang tidak dibayar. Itu bukan karena kamu tidak bernilai, tapi karena kamu tak ternilai”- Anies Baswedan

Relawan, good impact, action, great people, adalah menu-menu yang bakal aku sajikan dalam tulisan ini. Dan semua menu itu terangkum dalam sebuah program yang lagi aku dan teman-temanku jalankan sekarang, yaitu VTIC (Volunteerism Teaching Indonesian Children). Adalah saling mengajari, saling menginspirasi, saling memotivasi, dan saling menemani yang menjadi bumbu agar program ini menjadi program yang membekas bagi kami para cikgu (guru, dalam bahasa Melayu), para murid, dan orang-orang yang mengetahui semua ini.
Volunteerism Teaching Indonesian Children's Logo

Di tahun 2014 ini VTIC dilaksanakan dalam kurun waktu kira-kira 2 minggu untuk yang ketiga kalinya yaitu dari tanggal 13-23 Agustus 2014 di Miri, Sarawak, Malaysia.
Loh kok di Malaysia? Karena yang kami ajari adalah anak-anak Tenaga Kerja Indonesia yang tidak mendapatkan pendidikan formal disana dan itu banyak sekali jumlahnya, apalagi daerahnya yang terpencil, kesejahteraan yang kurang, dan akses yang cukup sulit yang menjadikan keadaan anak-anak disana seperti itu. Bahkan terdapat beberapa anak yang tak sempat mandi ketika belajar bersama cikgu, dan mereka lah anak yang orang tuanya belum sempat memandikan mereka dimana notabene orang tua mereka harus berangkat pagi-pagi sekali untuk menjadi pekerja kasar di perkebunan kelapa sawit disana.

Sekitar 80% anak disana tidak mendapat pendidikan formal. Hal ini membuat anak-anak disana kekuarangan amunisi untuk melanjutkan hidup mereka, seperti yang orang bilang bahwa pendidikan akan menjadi jalan buntu bagi kemelaratan, akan jadi energi manusia untuk mempertahankan harkat diri, dan disana…… pendidikan berkualitas menjadi barang mahal bagi mereka. Dan yang harus di ingat adalah: MEREKA JUGA ANAK INDONESIA

Hal-hal tersebut yang menjadi bahan bakar kami untuk bergerak menginspirasi mereka agar terus belajar, dan kami sadar bahwa belum banyak orang yang aware dengan kekurangan mereka apalagi mereka ada di luar Indonesia. Dan aku percaya sudah banyak great people yang bergerak untuk anak-anak yang bernasib sama di Indonesia, tapi disini tak banyak. Jadi mereka membutuhkan bantuan dari KAMU dan KAMI.
Awalnya saya hanya iseng ikut seleksi program yang dikhususkan bagi mahasiswa ini dengan maksud “Cuma mau ke luar negeri tapi ga buat main”, namun begitu saya bertemu dengan orang-orang yang diterima dalam program ini…. Aku ngerasa “Da aku mah apa atuh?”
Ya…. aku cuma sebangsa asap yang keluar dari Bus Damri yang butut. Secara GILE MEEEEN di VTIC ini ada yang sudah jadi global citizen yang udah menclak- menclok ke berbagai negara, ada yang udah jadi pembicara di seminar, ada yang jadi peserta kompetisi di tv nasional, dll. Lah aku? Mahasiswa FIKOM UNISBA 2013 (btw aku paling muda disini tjieee) yang kerjanya kuliah, pulang, ngehedon, rapat sekali-kali, and enough. Dan banyak orang-orang cerdas disini yang ternyata bener-bener great people, dan kalo ada quote yang bilang:

 “Everyone you will ever meet knows everything you don’t”
             itu bener banget!

Then one day Kang Alpiadi Prawiraningrat told me that volunteering is the best thing that higher student can do. “Kalo kamu mau lolos exchange atau scholarship yang jadilah orang yang addicted dengan volunteering”. Dari situ aku nyadar kalau ini salah satu yang dilakukan orang-orang cerdas, volunteering. It gives good impact to the others, secara langsung! Dan ngebuktiin kalau mahasiswa bukan cuma orator yang ngemeng doang. Dan manusia paling baik akan memanfaatkan dirinya untuk kebaikan orang lain seperti yang Rasulullah S.A.W bilang.

So…. What I wanna deliver to you is: take action to give good impact to your community. RIGHT NOW!  It’s your turn!



 
;